Calon Gubernur DKI Jakarta nomor urut dua Basuki Tjahaja Purnama lebih memilih mencari anak buah yang mengikuti perintahnya, dibandingkan pintar. Sebab dia sering mendapati ada orang yang notabenenya pintar kerap berkilah dan berdebat saat mencari solusi masalah di ibu kota.

Basuki atau akrab disapa Ahok ini menceritakan ketika ingin menyelesaikan masalah banjir di Universitas Taruma Negara dan Universitas Trisakti, Grogol, Jakarta Barat. Namun bukan jawaban rasional ternyata yang didapatkan karena harus meninggikan jalan hingga dua meter.

“Bapak ibu depan Untar Trisakti selalu banjir, waktu itu saya tanya bagaimana solusinya. Oh gampang pak, solusinya enggak ada pilihan lain jalannya ditinggikan 2 meter. Ah, dua meter lebih tinggi dari saya, terus gedung orang jadi apa dong,” katanya di Rumah Pemenangan Lembang, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (29/11).

Karena tidak menemukan solusi, akhirnya mantan Bupati Belitung Timur ini memutuskan untuk mengganti camat serta kepala suku dinas pekerjaan umum. Dia memilih untuk mengganti mereka dengan sarjana sosial yang tidak mengerti permasalahan mengenai penanganan banjir.

“Kita ganti insinyur-insinyur, kalau kita berdebat sama dia, di belakang dia bilang gini, Ah gubernur naif emang gampang atasi banjir. Akhirnya saya ganti saja dengan sarjana sosial,” terangnya.

Walaupun menimbulkan masalah baru, di mana akhirnya orang yang ditunjuknya itu tidak mengerti solusi banjir. Namun, Ahok meyakinkan mereka bahwa sebenarnya tidak masalah memimpin di dinas yang bukan kepiawaiannya.

“Saya enggak ngerti pak. Bagaimana bisa saya jadi PU Tata Air, sedangkan saya sarjana sosial, camat lagi. Saya bilang, saya juga sarjana geologi bukan politik,” tuturnya sambil tertawa.

Dengan posisi tersebut, akhirnya mereka memutuskan untuk mengikuti perintah dari mantan politisi Gerindra itu. Sehingga dia menilai, kini penanganan banjir dapat optimal karena lebih banyak kerja dibandingkan berdebat.

“Kalau terlalu pintar, dia argumennya wa..wa.. argumen sampai zaman Belanda, pusing saya. Kalah saya ilmunya. Mending saya cari yang ilmunya lebih sedikit di bawah saya,” tutup Ahok.