DALAM hitungan hari (Rabu 15 Februari 2017), masyarakat Jakarta akan menentukan pilihan pemimpin untuk periode lima tahun ke depan. Apakah kalian, warga ber-KTP DKI Jakarta sudah menentukan pilihan?

Tiga debat Pilkada DKI 2017 sudah rampung digelar. Terakhir, ketiga pasangan calon (paslon) sudah saling “promosi” di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Jumat 10 Februari dalam gelaran debat jilid III.

Nah, mulai Minggu (12/2/2017), sudah memasuki tiga hari masa tenang hingga hari H Pilkada 15 Februari. Sedikitnya untuk memilah-milah mana yang pas di hati warga DKI, bisa ditengok program-program yang disampaikan tiga paslon pada debat terakhir.

Paslon nomor urut 1 Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni punya program unggulan pemberian dana insentif Rp1 miliar per RW (Rukun Warga). Paslon nomor 2 Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat mengedepankan keberlanjutan rencana-rencana mereka sebagai incumbent.

Sementara paslon nomor 3 Anies Baswedan-Sandiaga Uno, menawarkan program OK OCE (One Kecamatan One Center for Entrepreneurship), serta program rumah tanpa down payment (DP) untuk warga DKI.

Dalam segment-segment interaksi, jalannya debat juga turut diwarnai aksi saling “sentil” dan saling sindir. Bahkan pendukung paslon 1 dan 3 yang berada di dalam hotel pun sempat bikin gaduh dengan menyoraki Ahok kala menjawab pertanyaan terakhir dari moderator Alfito Deannova.

Tensi juga sempat panas dan seiring berjalannya waktu, setiap paslon diberi kesempatan memberi pernyataan penutup terakhir dalam debat. Paslon 1 dalam closing statement-nya menyindir karakter Gubernur DKI saat ini (Ahok) yang karakter kerasnya sulit diubah.

Paslon nomor 3 menyatakan bahwa Ibu Kota butuh pemimpin baru dan perubahan. “Mayoritas warga Jakarta menginginkan gubernur baru. Mereka menginginkan perubahan. Selama 4 bulan ini kita kerja bersama ikhtiar perubahan itu. Kami hadir ingin menjawab keinginan itu,” tutur Anies, Jumat 10 Februari.

Sedangkan incumbent paslon nomor 2, menyatakan DKI butuh keterlanjutan program. Bukan “diacak-acak” dengan beragam program baru oleh dua paslon lainnya yang dianggap Ahok, sebagai “Oom dan Tante”, sementara Ahok-Djarot adalah orangtua warga DKI.

Namun tensi panas dalam debat, seketika mencair saat debat rampung. Ketiga paslon seperti halnya dalam debat sebelumnya, mengakhiri adu program dan saling sindir dengan wefie alias berfoto bersama.

Kalau mau melihat lebih detail lagi debat tersebut, ya pemirsa bisa cek tuh di Youtube yang pastinya sudah banyak yang meng-upload. Sambil mengecek lagi, masyarakat bisa mulai menimbang-nimbang pilihannya.

Oh iya, diimbau bagi warga yang memang tak peduli akan politik atau belum menentukan pilihan, jangan golput alias golongan putih ya. Anda yang ber-KTP DKI, punya hak pilih yang berharga luar biasa bak emas 24 karat.

Hak pilih Anda masing-masing meski hanya satu suara, sangat menentukan arah perkembangan Ibu Kota dalam lima tahun ke depan. Bagi para muda-mudi anak Jakarte, yuk ramai-ramai ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) sebagai pelajaran berpolitik dan ikut serta pesta demokrasi sehari setelah ngerayain Hari Valentine.

Untuk yang memang sudah menentukan pilihan dan membulatkan tekad menggunakan hak pilihnya, jangan takut intimidasi pihak-pihak tertentu. Polda Metro Jaya sudah menjamin pengamanan menetralisir intimidasi dengan mengerahkan 32 ribu personel aparat TNI-Polri serta unsur pemda dan masyarakat.

“Saya ingatkan kembali, jangan coba-coba karena semua di TPS ada anggota kepolisian dibantu oleh TNI. Menurut informasi selentingan ada (ancaman). Saya akan melakukan langkah-langkah penegakan hukum,” tegas Kapolda Metro Jaya Irjen Pol M Iriawan, Sabtu 11 Februari.

“Jadi silakan kita berikan keleluasaan kepada masyarakat untuk mencoblos siapa sesuai dengan keinginan hatinya pasangan calon tertentu, untuk menjadi gubernur DKI. Saya akan totalitas dan betul-betul mengamankan jalannya Pilkada yang sebentar lagi akan melakukan tahapan pemungutan suara, dan perhitungan suara yang ada,” imbuhnya.

Satu lagi, buat yang muda-muda nih karena biasanya kadang alay dan “banci” foto, diingatkan agar tidak membawa telefon selular demi selfie di bilik suara ya. Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta melarang membawa alat komunikasi atau perekam, demi menjaga kerahasiaan Pilkada sebagaimana mestinya.

“Ya, pokoknya tidak boleh bawa apa pun yang bisa merekam gambar ke dalam bilik suara, baik itu handphone ataupun kamera,” cetus Ketua KPU DKI Sumarno.

“Jadi, nantinya akan disediakan tempat untuk menitipkan handphone sebelum calon pemilih memasuki bilik suara. Ya kalau bisa kita hindari lah selfie-selfie di bilik suara,” tandasnya.