Sengketa dualisme kepengurusan mewarnai perjalanan Partai Golkar selama satu tahun lebih. Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menyatakan konflik elite Partai Golkar dari 2015 hingga 2016 membuat partai tersebut mengalami keterpurukan. Akibatnya, dukungan masyarakat kepada partai terus merosot.

Setelah bersatu kembali dan terpilihnya Setya Novanto sebagai ketua umum, Golkar coba melakukan berbagai cara untuk mendongkrak citra partai. Salah satu di antaranya adalah dengan mendukung calon petahana Basuki T Purnama (Ahok) di Pilkada DKI 2017. Meski tidak terlalu mengejutkan, dukungan itu dinilai sebagai strategi untuk membenahi partai. Ahok yang mendapat dukungan dari relawan muda dan sejuta KTP dinilai Golkar sebagai figur yang bisa mendongkrak citra partai di mata publik khususnya di Pilkada DKI.

“Kita lihat Golkar dari waktu ke waktu menurun. Kita punya strategi jangka pendek, menengah dan panjang. Jangka pendek adalah pilkada dan menengah itu pileg 2019. Ahok punya potensi karena memiliki satu juta suara dari warga DKI. Dan saya kira semua partai punya strategi,” kata Koordinator Bidang DPP Golkar, Yorrys Raweyai.

Yorrys mengisahkan awal mula dukungan itu. Di internal partai, dengan menyadari elektabilitas yang semakin menurun maka disepakatilah untuk mendekati relawan Teman Ahok. Dari sana terdapat kesimpulan awal, anak muda lebih melihat figur daripada partai. Cara yang terbaik menurut Yorrys kala itu adalah mendukung Ahok di Pilkada DKI agar citra partai terbangun positif di mata masyarakat dan anak muda.

“Saya komunikasi intens dengan mereka. Mereka gak lihat partai tapi karena figur. Inilah politik modern,” ujar dia.

Pengamat politik Universitas Jakarta (UNJ), Ubedilah Badrun menilai, strategi Golkar punya misi yang jelas yakni kembali sebagai partai penguasa. Golkar, dengan pengalaman politik bertahun-tahun tahu benar bagaimana mendekatkan partai dengan rakyat pasca konflik. Selain itu, lanjut dia, Golkar punya waktu yang cukup untuk membenahi kemerosotan termasuk restrukturisasi partai. Dengan menjadikan Ahok sebagai figur yang bisa mendongkrak citra partai, menurut dia harapan terdekat Golkar adalah mengembalikan kepercayaan publik.

“Tentu saja mereka memiliki strategi politik termasuk kenapa dukung Ahok. Ini salah satu cara menarik hati rakyat bahwa Golkar itu pro perubahan, pro pada tokoh berintegritas. Itu sebuah political will yang dilakukan elite Golkar,” kata Ubedilah.

Namun demikian, Golkar bisa saja kembali terpuruk jika Ahok gagal meraih kemenangan di Pilkada DKI. Sebab Golkar yang secara elektabilitas menggantungkan harapan kepada Ahok. Kata dia, kekalahan Ahok adalah pukulan telak bagi Golkar.

“Untung kalau Ahok menang, tapi ya rugi kalau kalah. Publik menilai untuk tingkatkan citra partai ya melalui Ahok tapi kalau kalah ya berarti mereka juga gagal tingkatkan elektabilitas partai,” tegas dia.

Bagi Ubedilah, Ahok dan Golkar sama-sama saling menggantungkan harapan di Pilkada DKI. Golkar mendukung Ahok untuk menaikkan citra partai, sementara Ahok membutuhkan Golkar agar bisa kembali menjadi pemimpin di DKI. “Ahok dan Golkar itu saling memanfaatkan,” ujar Ubedilah.

Ibarat sudah di tengah jalan, Yorris mengatakan siap memenangkan Ahok di bulan Februari 2017 nanti. Isu seputar menarik dukungan dari Ahok dipastikan Yorris tidak akan dilakukan Golkar. “Kita tidak akan mundur dan kita akan berjuang keras agar Ahok bisa menang kembali,” tegas Yorris.

Di sisi lain, Ubedilah mengatakan, jika Ahok menang maka otomatis citra partai meningkat. Dan hal itu menjadi awal dari cita-cita Golkar untuk kembali berkuasa di 2019. Cara yang terbaik adalah menjauhkan diri dari korupsi. Sebab, kader Golkar, kata dia sudah banyak yang tersandung kasus korupsi.

“Habitus korupsi melekat pada sejumlah elite dan politisi mereka. Golkar harus bisa ubah untuk bisa kumpulkan dukungan di 2019. Ini bisa ancaman serius. jika makin intens korupsi maka Golkar makin terpuruk,” kata dia mengingatkan.

Pilih Ahok dan manuver Setya Novanto

Dukungan kepada Ahok juga dinilai Ubedilah sebagai strategi jitu Setya Novanto. Menurut dia, kepemimpinan Setnov tidak dilihat karena jiwa kepemimpinannya tapi berkat strategi politik itu sendiri. Dibandingkan dengan tokoh Golkar lainnya, Setya Novanto tidak dilihat karena kepemimpinan tapi latar belakangnya sebagai pengusaha.

“Kepemimpinan politiknya tidak kuat, apalagi kasus ‘Papa minta saham’. standar saya sebut jika dibandingkan dengan tokoh Golkar lain tetapi daya pengaruh dan jaringan yang luas, Setnov punya daya tawar yang tinggi,” jelasnya.

Potensi meraih kembali kekuasaan juga didukung oleh sumber daya Golkar itu sendiri menurut Ubedilah. Golkar dilingkari oleh politisi yang cerdas dan memiliki usaha dan media. Jika ini dimanfaatkan dengan baik dan tidak terjerat korupsi, dalam kurun waktu tiga tahun ke depan, Golkar akan meraih kembali kepercayaan dan menjadi partai penguasa.

“Golkar ini unik, dia punya SDM politik yang heba dan modal. Tapi tidak cukup dengan dua hal itu. Jauhi korupsi itu saja kuncinya. Karena kesalahan lain masih bisa ditolerir oleh masyarakat kita,” tutup dia.