Muncul Prostitusi Gay, Pemerintah Kaget

beritamix.com –┬áSebelum kasus prostitusi anak untuk kaum gay di Bogor, Jawa Barat terbongkar, Kementerian Sosial, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), serta Badan Pusat Statistik (BPS) sempat mencatat angka prevalensi anak-anak yang terjerat prostitusi pada 2014 silam.

Kala itu, tercatat sebanyak 8,3 persen anak laki-laki di Indonesia menjadi korban kekerasan seksual. Sedangkan anak-anak perempuan tercatat sebanyak 4,11 persen

“Ini kan yang jadi heboh karena (kasus) homo di Bogor. Tapi hasil survei Kemsos, BPS, dan PPPA 2014, prevalensi kekerasan seksual anak laki-laki 8,3 persen dan perempuan 4,11 persen. Jadi jumlahnya sekitar 640 ribu laki-laki, perempuan setengahnya. Jumlahnya secara populasi sudah besar,” ujar Deputi III Bidang Perlindungan Anak Kemen PPPA, Pribudiarta Nur Sitepu saat ditemui di ruang kerjanya, Jalan Medan Merdeka Barat, Jumat (16/9/2016).

Namun, dari angka tersebut, Budiarta mengaku jika pihaknya belum mengetahui bentuk dari faktor resiko (prevalensi) itu. Alhasil, ketika mencuat perkara prostitusi untuk kaum gay, pemerintah justru kaget.

“Bentuknya seperti apa kita belum tau waktu itu. Makanya kita kaget ada fenomena anak laki-laki prostitusi,” imbuhnya.

Sebab itu, selain di Bogor, Budiarta menilai bisnis prostitusi juga tumbuh di daerah wisata. Saat ini, pemerintah pun mendorong agar asosiasi perhotelan untuk peduli dengan meminta mereka berkomitmen memerangi praktek esek-esek.

“Saya menduga di daerah pariwisata. Saya mengharapkan asosiasi perhotelan harus care, bikin komitmen, pernyataan bebas prostitusi macam tulisan dilarang merokok,” sambungnya.

Terlebih muncul adegium jika pariwisata dengan prostitusi ibarat sisi mata uang. Namun, jika hal tersebut tetap dipertahankan, Budiarta menyebut Indonesia bisa mengalami nasib seperti Thailand yang justru merosot sektor wisatanya.

“Seks dan pariwisata kan seperti Thailand, kan tidak berkelanjutan. Malah orang takut HIV/Aids,” tandasnya