Derap langkah Wali Kota BandungRidwan Kamil mendadak cepat. Sorot matanya menajam, menengok tiap kamar yang berada di lorong gelap di sebuah panti pijat mesum bernama Illvsion di Jalan Ir. H. Djuanda (Dago), Jumat (23/9/2016).

Tak hanya mengejutkan, kedatangan Ridwan secara tiba-tiba membuat suasana mendadak hening. Para pegawai hanya terpaku, menundukan kepala saat Ridwan melintas di hadapan mereka.

“Kumpulin semua terapis di satu ruangan,” kata Ridwan kepada asistennya dengan nada tegas.

Para terapis panik. Beberapa perempuan tampak tergesa-gesa mengenakan jaket untuk menutupi tubuh seksinya.

Sekitar 30 terapis hanya duduk terdiam sambil menutup wajah untuk menghadang jepretan kamera juru foto.

Emil, sapaan akrabnya, langsung berdiri di tengah para perempuan berbusana serba mini. Ia kemudian mengumpulkan kartu identitas para terapis.

Satu demi satu diperiksanya. Melihat para terapis tegang, Emil berupaya mencairkan suasana.

“Tamunya banyak orang Bandung atau luar, ada bule?” tanya Emil.

Fifty-fifty Pak,” sahut seorang terapis bernama Siska (29).

“Pejabat banyak yang ke sini?” tanya Emil kembali.

Para terapis menjawab, “banyak”.

“Pakai seragamnya warna naon? Tahu dia pejabat gimana?” cecar Emil.

“Tahu dong Pak, dia suka kasih lihat fotonya,” timpal salah seorang terapis.

Para terapis kemudian blak-blakan kepada orang nomor satu di Bandung itu. Mereka kerap melayani hasrat birahi para konsumennya yang berlatar belakang eksekutif muda, pejabat, aparat, hingga artis.

Emil kembali melontarkan pertanyaan. “Kita ngobrol saja yah. Saya tanya, sekali dapat berapa?” kata Emil penasaran.

“Mulai Rp 800 sampai Rp 1 juta,” kata Siska.

“Itu berapa lama durasinya?” timpal Emil.

“Sembilan puluh,” jawab Siska yang belum setahun bekerja di Illvision.

“Sembilan puluh detik? Memang ada yang segitu?” ucap Emil disambut tawa para terapis.

“Sembilan puluh menit atuh, Pak,” ujar Siska.

Dialog ringan itu membuat suasana menjadi lebih santai. Para terapis tak sungkan berkeluh kesah mulai derasnya tuntutan hidup, hingga menyinggung status para terapis yang mayoritas janda.

Dalam sidak itu, Emil sempat memergoki seorang terapis tengah bertransaksi seksual dengan seorang pelanggan. Ia turut menemukan beberapa wanita tanpa busana.

Usai mendapat bukti kuat, Emil mengatakan, tetap menutup tempat tersebut dan akan meminta keterangan pemiliknya.

Tak berselang lama, petugas Satpol PP langsung melingkari bangunan itu dengan seutas pita yang menandakan bangunan itu ditutup.

Kepada wartawan, Emil mengatakan, operasi tangkat tangan (OTT) itu dilakukan agar tiap penindakan hukum berdasar bukti kuat tanpa harus berdebat.

“Karena untuk membuktikan terjadi asusila atau tidak kan susah. Kecuali ada OTT yang kira-kira memungkinkan menjadi barang bukti. Sudah tahu lah modusnya. Jadi di Bandung mah kita jangan kalah cara,” jelasnya.